Kendalikan Inflasi, Wali Kota Fasha Minta Pola Tanam Komoditas Pertanian Harus Berinovasi

JAMBI – Wali Kota Jambi Sy Fasha membuka rapat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kota Jambi.
Rakor diadakan di ruang pola Kantor Walikota Jambi, Kamis (26/11/2020) pagi dan mengangkat tema “Pengendalian inflasi dan pemulihan ekonomi di masa pandemi covid-19”.

Dipaparkan Fasha, salah satu tantangan dalam mengendalikan inflasi di kota Jambi yakni mengubah pola hidup warga. Fasha pun mencontohkan komoditi cabe yang selalu menyumbang faktor inflasi.

Dirinya meminta ke dinas pertanian kota Jambi, begerak cepat memberdayakan masyarakat. Salah satunya mendorong warga menanam cabe di polybag. Dan petani di kota Jambi didorong agar menanam bibit unggul untuk warga menanam.

“Intinya bagaimana mengarahkan masyarakat untuk berpartisipasi. Kita tahu luas kota Jambi kecil dibandingkan dengan kabupaten di provinsi Jambi. Untuk itu, pola kita baik pola pertanian, tambak ikan dan peternakan itu harus diubah,” ujar Fasha.

“Lahan pertanian di kota Jambi hanya 1400 hektar. Hasil pertanian dari padi hanya mencukupi 1% kebutuhan masyarakat di kota Jambi. Kalau kita tergantung dengan lahan pertanian yang ada, maka tidak akan bisa mencukupi.”
“Caranya diubah, kita tidak lagi menanam padi untuk dimakan sendiri atau dijual tapi padi ditanam untuk menghasilkan bibit yang unggul. Sehingga mendapatkan nilai ekonomis yang tinggi. Jangan semua ditanam untuk kebutuhan pangan kita.”
“Itu yang setiap tahun selalu saya ingatkan ke dinas pertanian kita, saya tegaskan Dinas Pertanian bagaimana menambah perlahan-lahan potensi pertanian. Misal di kawasan Seberang banyak lahan tidur. ini tugas besar pertanian,” tegas Fasha.

Fasha pun mengingatkan kota Jambi memiliki Balai Benih hortikultura kurang lebih 8 hektar yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan pembibitan.
Kepada wartawan usai acara, Fasha menjelaskan kota Jambi adalah salah satu tolak ukur untuk inflasi daerah. Dimana ada dua daerah yaitu kota Jambi dan kabupaten Bungo.

“Tadi saya tekankan juga bagaimana dinas terkait untuk membuat inovasi. Inflasi itu, laporan inflasi Itu penyebabnya adalah telur, daging, cabe keriting dan bawang merah dan itu menjadi salah satu penyebab inflasi,” jelas Fasha.
“Tadi saya minta kepada dinas terkait bagaimana membuat inovasi minimal adalah mengatasi kelangkaan cabai dan bawang. Apakah tadi dengan program misalnya gerakan menanam cabe, yang kita bagikan bibit gratis kepada masyarakat.”
“Minimal masyarakat menengah kebawah yang berpenghasilan rendah bisa menanam lewat pot atau polybag. Minimal untuk kebutuhan rumah tangga atau tetangga sekitar. Jadi tidak tergantung lagi dengan kondisi di pasar.”
“Hal-hal yang lain termasuk daging harus disiapkan juga, mencadangkan dana untuk operasi pasar apabila daging ternyata pergerakan harga cukup tinggi. Karena sudah bisa kita ketahui kapan harga daging naik.”
“Misalnya pada saat hari-hari besar hari raya. Ini sudah harus di manage dengan bai, bagaimana mungkin kita mensubsidi transportasinya, dan menjaga harganya tetap stabil. Itu adalah tugas TPID,” pungkas Fasha.

Kepala perwakilan Bank Indonesia (BI) provinsi Jambi Suti Masniari Nasution mengatakan BI di seluruh Indonesia memiliki program mengatasi inflasi.
“Dan program di seluruh Indonesia itu, BI mengikuti kearifan lokalnya. BI Jambi pada tahun 2017 pernah bekerja sama dengan PKK di setiap kabupaten meminta bantuan untuk masalah cabe untuk meningkatkan dari sisi di demand-nya,” ujar Suti Masniari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *