Bagaimana Lingkungan Membentuk Kita, dan Kita Membentuk Lingkungan? Memahami Reciprocal Determinis

oleh

Penulis: Salsha Julia, Keisya Damia Garbita dan Siti Octazahrah Liviany

Pernah tidak kamu merasa ingin jadi sesuatu karena lingkungan sekitarmu juga seperti itu? Misalnya, banyak anggota keluargamu yang berprofesi sebagai dokter, lalu tanpa sadar kamu juga mulai pengen ngikutin jejak mereka. Atau mungkin karena teman-teman di sekitarmu rajin dan ambisius soal akademik, kamu jadi ikut terpacu juga. Kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya ada proses psikologis yang cukup kompleks di balik itu semua.

Kita sering menganggap hal-hal seperti itu sebagai sesuatu yang “ya, memang kebawa aja”, seolah-olah kita hanya mengikuti arus lingkungan begitu saja. Tapi kalau dipikir lebih dalam, rasanya tidak sesederhana itu. Di satu sisi, kita memang dibentuk oleh lingkungan. Tapi di sisi lain, kita juga diam-diam ikut membentuk suasana di sekitar kita, dan uniknya, dua hal itu sering terjadi bersamaan tanpa kita sadari.

Ambil contoh tadi. Ketika kamu berada di lingkungan yang ambisius, awalnya mungkin kamu hanya merasa “wah, semua orang rajin banget ya”. Tapi lama-lama, muncul dorongan kecil dari dalam diri, entah karena ingin menyejajarkan diri atau takut ketinggalan. Dari situ, perilaku kamu mulai berubah. Mungkin kamu jadi lebih sering membaca, lebih aktif berdiskusi, dan mulai punya target yang lebih jelas. Lalu apa yang terjadi berikutnya? Dinamika lingkungan pun ikut bergeser. Bisa jadi kamu mulai lebih sering diajak diskusi, atau bahkan dijadikan teman belajar oleh orang-orang di sekitarmu. Tanpa sadar, kamu bukan hanya ikut arus, tapi sudah menjadi bagian dari arus itu sendiri.

Dalam psikologi, pola seperti ini sudah lama dijelaskan melalui konsep reciprocal determinism yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Konsep ini pertama kali diperkenalkan Bandura pada tahun 1977 melalui teori Social Learning-nya, lalu diperkuat dalam Social Cognitive Theory pada 1986. Intinya, kehidupan kita tidak bergerak hanya dari satu arah. Ada hubungan timbal balik yang terus-menerus antara tiga elemen utama, yaitu diri kita (faktor personal/kognitif), perilaku kita, dan lingkungan di sekitar kita. Ketiganya saling memengaruhi satu sama lain, bukan secara bergantian, melainkan secara bersamaan dan terus-menerus.

Bandura menggambarkan hubungan ini seperti sebuah segitiga yang setiap sudutnya saling terhubung. Kita bukan sekadar produk dari lingkungan, dan lingkungan pun bukan sekadar produk dari tindakan kita. Keduanya terbentuk bersama dalam sebuah siklus yang dinamis. Inilah yang membedakan pandangan Bandura dari teori-teori sebelumnya yang cenderung menempatkan manusia sebagai pihak yang pasif, sekadar merespons stimulus dari luar.

Coba lihat sisi sebaliknya. Misalnya seseorang mulai merasa “kayaknya aku tidak sepintar yang lain”. Perasaan itu memengaruhi cara dia berperilaku. Dia jadi lebih pendiam, lebih pasif, dan sering menghindar dari diskusi. Lingkungan pun merespons dengan cara yang serupa. Semakin jarang ada yang mengajaknya terlibat karena dia terlihat tidak tertarik. Akibatnya, perasaan awal tadi justru semakin terasa “terbukti”, padahal yang terjadi adalah ia sendiri yang tanpa sadar memperkuat kondisi itu melalui perilakunya.

Tapi polanya juga bisa berjalan sebaliknya. Satu momen kecil, seperti memberanikan diri menjawab satu pertanyaan di kelas, bisa menghasilkan respons yang berbeda dari lingkungan. Mungkin ada yang mengangguk, atau teman sebelah bilang “oh iya bener juga”. Dari situ, cara pandang terhadap diri sendiri sedikit bergeser. Perilaku ikut berubah, dan lingkungan pun menyesuaikan diri lagi. Siklusnya terus berjalan, dan perubahan kecil itu bisa berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa dua individu dalam lingkungan yang sama bisa berkembang dengan cara yang sangat berbeda. Perbedaannya bukan hanya soal kemampuan, tapi soal bagaimana masing-masing individu merespons lingkungannya, dan bagaimana lingkungan merespons mereka kembali. Dalam kerangka reciprocal determinism, tidak ada satu faktor tunggal yang menentukan segalanya karena semuanya saling membentuk.

Jadi, ketika seseorang merasa bahwa dirinya dibentuk oleh lingkungan, itu memang benar. Tapi penting juga untuk menyadari bahwa kamu punya peran aktif dalam membentuk lingkungan itu sendiri. Kesadaran ini bukan untuk membebani, justru sebaliknya. Ini adalah pengingat bahwa kamu tidak sepenuhnya pasif dalam perjalanan hidupmu sendiri.

Pada akhirnya, hubungan antara individu dan lingkungan bukanlah hubungan satu arah. Keduanya saling memengaruhi dalam proses yang terus berlangsung. Dan di dalam proses itulah, perubahan perlahan terbentuk, satu langkah kecil dalam satu waktu.

 

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *