Islam dan Wajah Kebudayaan Masyarakat Jambi, Menjaga Tradisi, Menghargai Sejarah

oleh

Ada sesuatu yang menarik dari Jambi.

Hari ini, Jambi dikenal sebagai daerah dengan masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Masjid, pengajian, madrasah, tradisi keagamaan, dan nilai-nilai Islam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun di tanah yang sama, kita juga menemukan peninggalan dari masa yang jauh lebih tua. Candi Muaro Jambi, misalnya, mengingatkan bahwa sebelum Islam berkembang luas, wilayah ini telah memiliki kehidupan masyarakat, kebudayaan, pengetahuan, dan tradisi keagamaan sendiri.

Lalu, apakah masa lalu itu harus dipertentangkan dengan kehidupan masyarakat Jambi hari ini?

Saya kira tidak.

Justru di situlah menariknya perjalanan jambi. Sebuah masyarakat dapat berubah, agama dapat berkembang, adat dapat mengalami penyesuaian, tetapi semua itu tidak berarti masa lalu harus dihapus dari ingatan.

Sejarah tidak selalu harus diwarisi sebagai keyakinan. Kadang-kadang sejarah cukup diwarisi sebagai pelajaran.

Islam Datang ke Tanah yang Sudah Memiliki Tradisi

Islam tidak datang ke Jambi dalam ruang yang kosong.

Sebelum Islam berkembang, masyarakat telah memiliki adat, bahasa, aturan sosial, serta kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika Islam kemudian berkembang, terjadilah proses perubahan yang panjang.

Ada yang ditinggalkan. Ada yang dipertahankan. Ada yang disesuaikan. Ada pula yang mendapatkan makna baru.

Karena itu, masuknya Islam ke dalam kehidupan masyarakat tidak selalu berarti seluruh kebiasaan lama harus dihancurkan. Nilai yang baik dapat dipertahankan, sementara yang tidak sesuai dengan ajaran agama dapat ditinggalkan atau diperbaiki.

Proses seperti ini sebenarnya dapat kita lihat dalam kehidupan masyarakat Jambi sampai sekarang.

Islam menjadi bagian penting dari identitas masyarakat, sementara adat tetap menjadi salah satu cara masyarakat menjalani kehidupan sosial.

Penghormatan kepada orang tua, musyawarah, gotong royong, menghormati tamu, menjaga hubungan dengan tetangga, dan membantu sesama adalah nilai-nilai yang dapat bertemu dengan ajaran Islam.

Karena itu, agama dan budaya tidak selalu harus ditempatkan sebagai dua hal yang sedang berhadapan.

Agama memberikan arah, sementara kebudayaan sering kali memberikan bentuk dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar dari Sejarah Hukum Jambi

Perjalanan tersebut bahkan dapat dilihat dari sejarah hukum dan adat masyarakat Jambi.

Undang-Undang Tanjung Tanah merupakan salah satu peninggalan penting yang menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah Jambi telah memiliki aturan kehidupan sebelum Islam berkembang luas.

Ketika kemudian Islam berkembang dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat serta kerajaan-kerajaan di Jambi, kehidupan hukum dan adat tidak serta-merta dimulai dari halaman kosong.

Aturan dan kebiasaan yang telah ada menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian berinteraksi dengan nilai-nilai Islam.

Di sinilah kita dapat melihat bahwa perubahan masyarakat tidak selalu berlangsung dengan cara menghapus yang lama lalu menggantinya dengan sesuatu yang sama sekali baru.

Sering kali perubahan berlangsung lebih halus.

Yang masih sesuai dipertahankan. Yang tidak lagi sesuai ditinggalkan. Sementara sebagian lainnya mengalami penyesuaian dan memperoleh makna baru.

Itulah sebabnya sejarah hukum dan adat penting dipelajari. Bukan semata-mata untuk mengetahui aturan apa yang pernah berlaku, tetapi untuk memahami bagaimana sebuah masyarakat berubah ketika berhadapan dengan nilai dan keadaan yang baru.

Menghargai Sejarah Bukan Berarti Mengikuti Keyakinan Masa Lalu

Hal yang sama berlaku ketika kita berbicara tentang peninggalan sejarah.

Kita dapat memelihara candi tanpa harus mengikuti keyakinan yang pernah berkembang pada masa candi itu dibangun.

Kita dapat mempelajari naskah lama tanpa harus menerima seluruh pandangan hidup masyarakat yang menulisnya.

Kita dapat mengenang sebuah peradaban tanpa harus kembali menjadi bagian dari peradaban tersebut.

Ada perbedaan antara menghargai sejarah dan mengikuti keyakinan sejarah.

Keduanya bukan hal yang sama.

Justru kemampuan membedakan keduanya penting bagi masyarakat yang ingin maju. Masa lalu tidak harus ditakuti, tetapi juga tidak harus diromantisasi secara berlebihan.

Ada yang perlu dikenang.

Ada yang perlu dipelajari.

Ada yang cukup dicatat sebagai bagian dari sejarah.

Dan ada nilai yang memang tidak lagi sesuai untuk diteruskan.

Dengan cara pandang seperti itu, menjadi Muslim tidak mengharuskan seseorang membenci masa lalu daerahnya sendiri.

Sebaliknya, menghargai peninggalan sejarah juga tidak berarti seseorang harus kehilangan keyakinannya.

Generasi Muda dan Wajah Jambi ke Depan

Generasi muda Jambi perlu mengenal keduanya: agama yang diyakininya dan sejarah masyarakat tempat ia hidup.

Mereka perlu mengetahui mengapa Jambi menjadi masyarakat yang mayoritas Muslim seperti sekarang. Tetapi mereka juga perlu mengetahui bahwa keadaan tersebut merupakan hasil dari perjalanan yang panjang.

Ada peradaban sebelum Islam.

Ada perdagangan dan hubungan dengan berbagai wilayah.

Ada kerajaan.

Ada adat yang telah lama hidup.

Ada proses Islamisasi.

Dan ada perubahan sosial yang berlangsung dari generasi ke generasi.

Memahami perjalanan itu membuat kita sadar bahwa identitas Jambi tidak lahir dalam satu malam.

Ia terbentuk melalui perjalanan panjang.

Karena itu, peninggalan seperti Muaro Jambi bukan hanya penting bagi arkeologi atau pariwisata. Ia juga merupakan ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami bahwa masyarakat hari ini merupakan bagian dari sejarah yang jauh lebih panjang daripada umur satu generasi.

Sejarah Dipelajari, Agama Diyakini

Pada akhirnya, kita tidak harus memilih antara menjadi religius dan menghargai sejarah.

Keduanya memiliki ruangnya masing-masing.

Agama menjadi pedoman keyakinan. Sejarah menjadi pelajaran. Budaya menjadi bagian dari identitas masyarakat. Adat menjadi salah satu cara nilai-nilai sosial diwariskan.

Yang diperlukan adalah kemampuan menempatkannya secara proporsional.

Sejarah dipelajari, agama diyakini, budaya yang baik dipelihara, dan kehidupan bersama dijaga.

Jambi telah melewati perjalanan yang panjang. Dari berbagai peradaban dan keyakinan, dari adat yang telah lama hidup, hingga Islam yang kemudian menjadi bagian utama dari kehidupan masyarakat.

Semua itu adalah bagian dari cerita Jambi.

Mungkin tugas kita bukan memilih bagian mana yang boleh diingat dan mana yang harus dilupakan. Tugas kita adalah memahami perjalanan itu dengan jernih.

Sebab masyarakat yang mengenal sejarahnya akan lebih mudah memahami dirinya sendiri.

Dan masyarakat yang memahami dirinya sendiri tidak perlu takut pada perbedaan.

Inilah wajah Jambi yang layak terus dirawat: Islam yang hidup dalam masyarakat, adat yang tetap memiliki akar, dan sejarah yang tidak perlu dihapus hanya karena zaman telah berubah.

Ditulis oleh Abdul Rachman (ASN pada Pengadilan Tinggi Agama Jambi)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *